Wong Cilik Pensiun Dini: Kisah Sukses Investasi Saham Yang Mulai Dari Bawah

04 September 2018 Aro

Berinvestasi lewat saham memang terbukti membawa keuntungan yang tidak main-main. Untara Hadid dan Lo Kheng Hong memulai dari bawah,dan kini bisa pensiun dini dan hidup nyaman dari laba investasi mereka, berkat memilih trading saham.

Kedua pria berusia 50an ini memiliki banyak kesamaan. Bermula dari awal yang sederhana, penghasilan Untara Hadi saat bekerja di perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor, hanya 1,2 juta/bulan. Sedangkan Lo Kheng Hong besar di rumah sempit dan menyambi kuliah malam sambil bekerja karena orang tuanya tidak mampu membiayai selepas lulus SMA.

“Saya awalnya berinvestasi reksa dana pendapatan tetap di tahun 2001,” ucap Untara yang juga sempat menjadi supir taksi. “Return-nya tidak tinggi,” Karenanya,ia mencari informasi instrumen investasi lain dan lama-lama tertarik untuk mencoba investasi saham. “Tahun 2003, saya menarik deposito dan reksa dana pendapatan tetap untuk dialihkan ke saham. Saya pertamakali membeli saham TINS (kode saham PT Timah Tbk),” kenang Untara. “Saya membeli di harga sekitar Rp 3.000, bertahap hingga jumlahnya mencapai 30 ribu lembar.”  Menurut Untara, ia mendapat keuntungan dari TINS sekitar Rp 300 juta di tahun 2003-2008. Keuntungan yang tinggi itu memotivasinya untuk menambah aset di pasar modal. “Saya selalu memutar gain, diputar terus untuk membeli saham untuk trading jangka pendek dan investasi jangka panjang,” katanya.

Sedangkan Kheng Hong membeli saham pertamanya di usia 30 tahun, saham PT. Gajah Surya Multi Finance saat IPO. Selalu hidup hemat. uang yang ia punya ia belikan saham. Belajar mengenai saham secara otodidak melalui buku-buku investasi Warren Buffet, Kheng Hong tidak tertarik membeli mobil, emas, dolar, atau deposito. Uang yang ditaruh di rekening juga secukupnya saja.  Sesudah 17 tahun bekerja di bank, Kheng Hong memilih pensiun dini, “Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang besar dan tidak capek seperti di sektor riil. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar.” Kini hampir setiap hari ia melakukan hal yang ia sebut sebagai RTI: reading, thinking, dan investing. Ia membaca 4 koran yang datang ke rumah setiap hari, laporan keuangan perusahaan dan data statistik pasar modal.

Ketekunannya telah membuahkan hasil:  ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat ini,” tutur Kheng Hong yang konon kini asetnya bernilai triliunan rupiah.

tradesmart article